Sore menjelang,, terlihat olehku pedagang baju-baju batik, aksesoris, gelang, kalung, sendal, tas, dan masih banyak lagi di emperan toko sepanjang jalan malioboro terlihat sibuk berkemas. Semua itu digantikan dengan pedagang penyetan, ikan bakar, bebek bakar, wedhang ronde, angkringan, dan tak ketinggalan makanan khas jogja yaitu gudheg. Pasar sore pun telah ramai. Pengamen sibuk dengan alat musik dan meriakkan lagu-lagu hitsnya, peminta-minta, tukang parkir dengan peluitnya… prit,,,priiit,,priit,,, Tukang becak terkantuk-kantuk menunggu penumpang… Berbagai macam cara merekamencari rejeki… dan aku juga punya cara sendiriā¦
Lampu mulai menyala,,, Orang-orang masih saja ramai lalu-lalang, hilir mudik, tak ada habisnya. Mereka jalan-jalan mengagumi keindahan jogja, hunting foto, belanja mencari oleh-oleh dan wisata kuliner khas Jogja, menghabiskan malam bersama keluarga, bersendau-gurau bersama teman, atau hanya sekadar menggandeng pacar. Menikmati pesona ruas jalan malioboro hingga area kilometer nol..
Hmm,,, Mereka bilang Malioboro berasal dari nama kolonial Inggris yaitu Marlborough yang pernah menduduki kota ini ( 1811M – 1816M).
Pasar Beringharjo, Monumen SU 1 Maret, Benteng Vredebrug, Gedung Agung merupakan bangunan saksi sejarah jaman dahulu. Sekarang disekitar kawasan ini telah padat menjadi kompleks pertokoan, sepertinya semua orang ingin berdagang di sini. Pembangunan di sana-sini, renovasi, pemugaran. Kota ini tak pernah mati.
Malam mulai pekat, badan terasa penat, sudah saatnya aku istirahat. Waktuku mengais rejeki telah usai untuk hari ini, esok tak boleh ku terlambat memulai. Ku hamparkan tikar alas tidurku. Ku selimuti kulit keriput ini. Biyar dingin malam tak terlalu menusuk tulang renta ini.. Tak ku peduli hiruk pikuk disekitarku… Berharap esok lebih baik daripada hari ini,,,
Malioboro,,Selamat tidur,,

0 Tanggapan ke “Malioboro,,selamat tidur,,”